Mendadak, tarawih ke Frankfurt (1)
Uncategorized 1 Comment »Cerita awal..
Rabu kemarin Momo mengajakku tarawih di mesjid Tarikh Frankfurt secara mendadak (ini salah satu tipe Momo–spontan euy). Aku yang baru selesai makan sup pembuka langsung bingung tak berujung, karena tidak direncanakan olehku sebelumnya. Momo dan Bilal Grup (Momo n D´Gank)saat itu dapat undangan Abu Hamzah ifthar di rumahnya. Aku justru ketiduran di rumah sampai kelewatan waktu ifthar. Hari itu seperti biasa dinginnya, niat ingin tidur-tiduran eh jadi tidur benaran. Kebetulan ada temannya yang searah mau pulang ke Frankfurt, jadi bisa ikut sejalan. Singkat kata, mereka datang menjemputku tanpa syarat. Mungkin sudah takdirku harus tarawih di Frankfurt malam ini. Perjalanan dari Darmstadt ke Frankfurt memakan waktu 20-30 menit dengan kecepatan mobil rata-rata 100km/jam. Di dalam mobil, masih ada dua brothers, yang mengemudi dan satu lagi yang berdomisili di Frankfurt, ia seorang ahli bank dan perekonomian syariah. Hari itu Momo mengundangnya untuk memberikan pelajaran tentang ekonomi syariah bagi muslim di Darmstadt, sayangnya pakai bahasa Jerman, so aku memilih tidak pergi. Dalam perjalanan Momo berceloteh ria, “I think i dont want to use Bank anymore, they are crazyyyyy, ya” (kata ‘crazy’, salah satu tipe dia juga, baik dalam hal pemakaian kata maupun tingkah lakunya yang hiperbolis. Sedangkan partikel akhiran ‘ya’ menandakan ia belum bisa menguasai penggunaan partikel ini secara benar dalam konteks bahasa Indonesia–orang Indonesia, terutama saya sering pakai partikel ‘ya’, dan Momo lama-kelamaan jadi kesukaan pake ‘ya’ juga). “Their systems are crazy. So many Riba. If you know how they manage the money circulation, you will know that they make a lot of Riba and that is haram!!”. Aku terdiam tapi tetap menanti komentarnya setelah mengikuti ‘kursus singkat’ tentang ekonomi syariah itu. Intinya kami tidak ingin menyimpan uang di bank manapun kecuali bank syariah, tapi di Jerman mana ada? Dari gaya penjelasannya yang persuasif, ia bersikukuh bahwa all of the non syariah banks in the world are crazy, dan kalau riba memang jelas hukumnya haram, so dont save your money in those kind of banks. Minggu ini kami memang sedang tertarik dengan penjelasan ekonomi syariah, dan minggu sebelumnya kami juga pernah menghadiri ifthar komunitas orang Indonesia muslim dan ustad yang didatangkan langsung dari Indonesia sempat berceramah sedikit mengenai perbankan dan ekonomi syariah.
Fiuuh..sampai juga di tikungan dekat mesjid Tarikh. Kami berterima kasih kepada si brother (aku lupa namanya), dan berjalan cepat-cepat menuju mesjid. Setelah sholat Isha, aku duduk sebentar karena kebetulan sedang rehat dan ceramah. Tidak lama, mulai kembalilah tarawihnya. Ayat-ayat cinta Allah yang dilantunkan imam malam itu, subhanallah..begitu indah! Dahsyat dan luar biasa sekali. Sampai merinding dibuatnya, bahkan ada beberapa jamaah yang sesenggukan karena penghayatan akan makna surat yang dibacakan imam. Ah, itulah sebabnya Momo memilih tarawih di mesjid ini. Ia merasa menyesal jika Ramadhan ini tidak ke mesjid Tarikh, tapi alhamdulillah kami bisa pergi ke sana berdua. Dari suaranya aku menebak imam itu masih amatlah muda. Dan memang benar, Momo mengiyakan. Selesai tarawih, dengan lampu temaram yang menemani kesepian di perjalanan kami menuju halte trem, ia berceloteh gembira lagi. Menanyakan komentarku tentang vokal imam tadi. Ia ingin punya vokal baca quran seperti itu hihihi..Aku tersenyum padanya, ”just be yourself, honey”. Iya mau bagaimana lagi, soalnya di jalanan ia mencoba melantunkan surat dengan meniru suara si imam tadi, suaranya menggelegar. Untung tidak ada orang yang melempari kami botol seperti yang di film-film kartun. Akhirnya ia mengubah suaranya sampai pada derajat keaslian suaranya sendiri.
Kami naik trem menuju Hauptbahnhof, stasiun Frankfurt. Sesampainya di stasiun dan membeli tiket, masih ada waktu tersisa sekitar setengah jam. Tiba-tiba Momo bertanya, lagi-lagi dengan wajah berseri-seri penuh percaya diri, ”Erna, mau kah kamu kutunjukkan sisi malam Frankfurt?”. Aku pun mengiyakan dengan semangat. Dalam benak aku sudah mengetahui apa yang akan ia perkenalkan di sekitar stasiun ini.